Selasa, 10 Juni 2014

Si Perempuan Harapan

Edit Posted by with No comments
Bukan tak mungkin bagiku menyimpulkan ada rasa yang tak biasa untukmu. Bukan tak mungkin pula, jika aku disini sedang berharap dirindukanmu. Tapi cukup buatku memendam semuanya sendirian, tak ingin aku berbagi dengan siapapun. Cukup Tuhanku yang tahu, karena Dia-lah pula... aku bisa merasakan ini dan itu terhadapmu Tuan.

Disebrang jalan, aku lihat ada seorang Wanita yang sedang duduk dibangku taman dengan wajah gelisah. Entah apa yang dia lakukan? Dia sendirian... dan tak lama berselang, datang seorang Pria menghampirinya dan memberikanya sebucket bunga. Apa yg ku saksikan barusan adalah dimana waktu yang mempersiapkan semuanya dengan baik. Tentunya si Wanita tadi sedang dalam kondisi berharap, ada kecemasan dalam raut wajahnya menanti, menunggu seseorang yang ia cintai.

Tuan... mengertikah kau seperti yang ku kisahkan tadi ? Ini bukan tentang aku, ini tentang harapan. Banyak harapan yang dibuat... tapi banyak pula yg dapat mematahkan harapan itu sendiri. Aku berharap bisa seperti Wanita tadi, harapan ketika aku menunggu dengan penuh kecemasan dan kegelisahan. Tapi rasa gelisah dan cemasku kau tepis dengan kehadiranmu. Bukan tidak mungkin, buatku ketika harapan itu semakin membuncah didalam dada, kau tak datang dan kau memilih pergi. Lalu bagaimana denganku, dengan semua harapan yang ada dalam angan-angan khayalku? Tentu, tak ada ukiran senyum di raut wajahku. Iya, aku kecewa. Tapi memang begitukah sebuah harapan ? Tak semua harapan bisa membuatku tersenyum bahagia, namun dikala itu harapan bisa juga seketika membuatku tak berdaya.


0 komentar:

Posting Komentar