Dengarkan
Fa..
Yang aku
tahu, hati tak pernah salah. Mungkin aku saja yang salah.
Entah
salahku apa.... Aku sendiri masih meraba-raba.
Katamu cinta
tak harus memiliki ? Mengapa menurutmu demikian ?
Karena kau
tak mampu memiliki hatinya ?
Karena kau tak
sanggup membuatnya betah berlama-lama didekatmu ?
Dengarkan
Fa...
Mungkin ada
benarnya, seperti yang kau katakan.
Cinta tak
harus memiliki.
Akupun tak
harus memilikimu, bukan ?
Tahukah Fa..
Setiap kali
kau menceritakannya, kepadaku.
Aku berusaha
untuk menjadi sosok sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesahmu.
Sesekali,
aku harus bisa mengabaikan perasaanku. Sakit!
Tahukah Fa..
Kadang aku
ingin, aku tak pernah merasakan hal ini.
Rumit
rasanya, ketika kau katakan kau menyayangi dia... sahabatku sendiri.
Bukan aku
tak terima pengakuanmu.
Hanya saja,
aku terlampau sakit mendengarnya.
Lihatlah
Fa..
Dia...acuh
tak acuh terhadapmu.
Bahkan
sekedar membalas sapaanmu saja tidak.
Tapi raut
wajahmu menggambarkan, kau tak apa dengan perlakuannya.
Lihatlah
Fa..
Aku berdiri
sendiri disini. Sedang menantimu.
Kau
bergerak, berjalan menujuku.
Tapi bukan
untukku, melainkan untuknya.
Kau datang
kepadaku, memintaku... menemanimu untuk menemuinya.
Tolong Fa..
Ingin rasanya
aku berjalan sepertinya, yang sanggup menjauh darimu.
Namun
nyatanya, aku tak pernah bisa.
Menatapmu
diam-diam. Sadarilah, aku terluka amat dalam.
Kerap kali,
aku berusaha untuk tahu diri.
Sekali lagi Fa.....
Tak akan pernah sampai aku ucapkan langsung kepadamu.
Terima dan bacalah surat usangku.
Sekali lagi Fa.....
Tak akan pernah sampai aku ucapkan langsung kepadamu.
Terima dan bacalah surat usangku.
Ini dari aku, yang kau panggil sahabat.
Keren bener...
BalasHapus