Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam cafe, tempat biasa aku menghabiskan waktu untuk sekedar meminum segelas frappucino atau menikmati sepotong cake cokelat yang tak bosan-bosan aku pesan kepada pramusaji.
Ku lempar pandanganku ke seluruh ruang di cafe ini, hiasan dinding yang nampak apik, temaram lampu membuat cafe ini terlihat penuh kesunyian.
Dan aku begitu menyukai aroma kopi yang disajikan. Harum, menggugah lidahku untuk segera menjamahnya..
Kutemukan disudut ruangan cafe ini, di dekat jendela. Nampak seorang laki-laki ditemani secangkir kopi yang masih terlihat kepulan asapnya. Ku yakin, ia pasti baru saja memesannya. Akupun tak ingin kehilangan momen menikmati kopiku yang sedari tadi sudah bersanding diatas meja.
Pandangan laki-laki tanpa nama itu kosong, sesekali menatap keluar jendela. Entah mengapa, ada segaris senyum yang tercipta dibibirku.
Dari kejauhan, aku memandangnya..
Sorot matanya yang teduh, senyumnya yang tak nampak biasa terlihat ketika ia memanggil pramusaji.
Cepat atau lambat, aku menyadari tengah jatuh hati. Mengetuk pintu hati tanpa permisi.
Aku tak punya nyali untuk menghampiri. Helaan nafas dan degupan jantung yang terdengar, meski alunan musik kadang terdengar hingar bingar. Aku hanya diam , dan tetap menatapnya lekat tanpa berani mendekat.
Sabtu, 11 Juli 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Ih lucu ceritanya. Ini fiksi atau bukan nih? hehehe. Slam kenal ya mbak, baru pertama mampir ke sini nih. \(w)/
BalasHapusIni fiksi, Wahhh... terima kasih sudah berkunjung. Jangan bosan-bosan ya :)
BalasHapus