Teruntuk kamu yang (masih) ada di hati. Tak sangka, aku bisa menuliskan kata demi kata untuk menjadikannya sebuah kalimat pesan yang ingin ku sampaikan kepadamu.
Ketika aku menuliskan ini, keadaan aku tak sedang dalam keadaan yang
baik-baik saja. Aku sempat menangis, aku menangis merindukan kamu.
Entahlah kamu disana merindukan aku juga atau tidak ? Hai, apa kabar
kamu sekarang ? Sudah lama sekali kita tak bertemu... aku sendiri lupa
kapan terakhir kalinya kita bertemu :'). Kapan terakhir kalinya aku bisa
menyentuh lembut wajahmu, terakhir kalinya mendengar tawamu, terakhir
kalinya melihat senyummu dan terakhir kalinya mendengar suaramu....
Sekiranya sudah kurang lebih 2tahun kita tak pernah bertemu. Seperti apa
dirimu sekarang ? :) Masihkah cuek ? Masihkah pendiam ? Ahaha. Seakan
ledakan rindu ini membawaku ke masalalu. Jelasnya aku rindu kamu :')
Maaf sudah terlalu sering merindukanmu, aku tak bisa menghalau rasa
rindu yang selalu datang ini.
Dan kopi yang ku seduh pagi ini, masih sama rasanya tetap nikmat, dan tetap terasa manis jika ditambahkan gula.
Kopi yang ku sruput .... masih terasa panas. Biarlah, ku tiup perlahan biar menjadi hangat. Dan lama-kelamaan pun kopi yang ku minum menjadi dingin, dan ketika sisa sedikit di dasar cangkir kopi banyak ampas kopi yang pasti rasanya pahit. Tentu tak akan ku icip..hehe
Begitulah caraku menikmati semuanya, kopi yang dulu panas sekarang pasti telah dingin. Tentu tak senikmat di awal pertama aku rasakan.
Yaaa... begitupula dengan kau dan aku dulu. Banyak kehangatan di awal janji yang kita ikatkan dalam satu rasa yang sama, harapan yang tak akan putus. Dan biarkan semua berjalan sesuai waktunya.
Dan kini, aku di hadapkan pada keadaan seperti kopi yang tak lagi panas dan menghangatkan. Yang tak lagi, ku nikmati seperti pertama. Semua berubah, menjadi dingin, hambar dan rasanya pahit. Tak enak.
Kau dulu bagai kopi yang menghangatkanku, menemani sepiku... membuatku betah berlama-lama denganmu menikmati yang ada di depan mataku.
Sekarang, kopi yang dingin itu sedang ku nikmati ampasnya. Bagaimana rasanya ? Tentu pahit, iya ku tegukan ampas yang pahit itu kini.
Pahitnya seperti perpisahan yang tak di tentukan jadwalnya. Secara tiba-tiba.... pasti tak semua orang mau, mengecap rasanya ampas kopi yang pahit. Begitupula perpisahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya.
Maaf...
Mungkin hanya satu kata itu yang bisa aku tuliskan. Maaf kalau kamu keberatan aku kirimi surat ini, hanya dengan cara ini bisa aku sampaikan semuanya. Aku tak punya cukup nyali untuk mengirimkan pesan singkat kepadamu.
Atas izin waktu yang mempersilakan ku menuliskan ini, aku katakan "AKU RINDU KAMU".
Aku berdiam diri di sudut kamar, mengingat jelas kenangan yang kita ciptakan. Perpisahan yang sudah terjadi, adalah awal pertemuan baru kita nanti yg jauh lebih indah.
Aku panjatkan doa seiring waktu yang belum mengizinkan kita bertemu di bawah langit yang sama, di kota yang sama.
Biar jarak ini memusuhi kita, biar waktu ini memperlama pertemuan kita. Tapi nanti jarak dan waktu ini akan menyerah juga ;)
Sebelum aku akhiri tulisan ini, untuk siapapun yang membacanya aku ucapkan terimakasih. Dan semoga surat yang ku tujukan untukmu pun kau baca.
Asaku tak pernah putus. Doaku tetap mengalir untuk hidupmu..... rasa yang masih tertinggal kini hanya sayang dan rindu.
NB: Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba #SuratUntukRuth. Novel by Bernard Batubara
Selasa, 01 April 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar