Jakarta, 30 Januari 2015
Untuk lelaki di kota seberang..
Tak terasa sudah hampir 4 tahun, aku tak pernah lagi
berkirim kabar denganmu. Tak pernah lagi sekedar bercanda, mengetikan rangkaian
kata per kata menjadi kalimat yang penuh kerinduan. Maaf ya, kalau lagi-lagi
mengirimimu surat. Ya, aku tahu.. harusnya yang ku tuliskan surat cinta tapi
anggaplah ini surat cinta pertama dariku. Jadi perkenankan aku menuliskannya
lagi untukmu, walaupun sepertinya tak pernah ada waktu sebentar untuk kamu
membacanya.
Aku masih ingat waktu kali pertama melihatmu, iya di lorong
sekolah menuju gerbang. Aku jarang rasanya melihatmu, tapi pada saat itu juga
ku putuskan untuk mencari tahu tentangmu. Jatuh cinta tak kenal waktu maupun
keadaan sepertinya.
Hari ke hari seolah aku berusaha menjadi seorang detective.
Mencari keberadaanmu, diam-diam memperhatikanmu. Selucu itukah orang yang
sedang jatuh cinta ? Ku pikir, iya. Perasaan aku tak karuan ketika melihatmu
berjalan berbarengan dengan teman kelasmu. Ketika bel masuk berbunyi, ingin ku
percepat putaran jarum jam. Kenapa ? karena aku ingin melihatmu. Tentu kamu tak
mengira bahwa seperti itu aku dulu, mencintaimu diam-diam. Entah aku tak pernah
berfikir, kamu sadar atau tidak sedang ku perhatikan ketika jam istirahat dan
sepulang sekolah.
Sesederhana itu caraku mencintaimu, dalam diam dan
keheningan. Tak banyak orang yang tahu.
Mungkin ada benarnya kalau ‘Jodoh Tak Kemana’. Rasanya
seusiaku dulu, belum pantas juga memikirkan jodoh. Tapi ketika menuliskan ini,
usiaku sudah cukup dewasa jadi tak apa.
Seperti mimpi , saat upacara kamu ada di lapangan. Padahal
yang aku tahu, kamu tak dapat kelas pagi. Tuhan mengabulkan doaku, kah?
Menemukanmu dalam barisan kelas yang lain, yang artinya aku masih dapat bertemu
dan melihatmu setiap pagi. Padahal tadinya aku sempat kecewa, bahwa aku tahu
kamu dapat kelas siang. Senang dan sedih itu satu paket, dan inilah jawabannya.
Lalu apalagi yang sanggup aku tuliskan ? Sepertinya sudah cukup, mengorek kenangan itu sama saja mengorek luka yang sudah kering. Terasa perih, namun tak perlu khawatir. Aku sudah cukup pulih untuk menuliskannya lagi, terlebih untukmu. Cinta bukan saja menghadirkan tawa, namun tangis pun menjadi penyempurna rasa.
Terima kasih, Fik.
- Dari yang (pernah) mencintaimu.
Duhh, ngena banget
BalasHapus