Kisah seorang gadis
remaja yang jatuh cinta diam-diam.
Memilih diantara
cintanya atau persahabatannya ?
Memilih diantara
kebahagiaan untuk dirinya atau kebahagiaan untuk sahabatnya ?
Cinta menelusup hati
tanpa permisi, meninggalkan luka ataupun tawa. Hingga ia berlari dan pergi.
-------***-------
“Kemarin gue pulang sekolah dianterin sama kak Excel
loooooh” cerita Denia heboh kepada teman sebangkunya.
“Hmm... terus?”
“Ya gitu deh, pulang sekolah kita sempet berenti makan di
kafe favoritnya kak Excel. Ah gue jatuh cinta beneran kalo begini sama kak
Excel. Dia baik, perhatian, ganteng pula....”
“Lo yakin dia begitu tandanya dia suka sama lo?” tanya Rey
cuek.
“Kok lo nanyanya gitu sih Rey? Bikin gue ngedown aja. Tapi
sih ya gue yakin, kak Excel pasti juga punya perasaan yang sama kayak gue. Kalo
nggak kenapa dia begitu perhatian sama gue?” jawab Denia santai.
Obrolan dua sahabat itu terhenti karena bel masuk telah
berbunyi. Tak lama dari bunyi bel, Pak Kusdiman guru Fisika pun masuk kelas.
Seperti biasa, Pak Kusdiman menginstruksikan seluruh siswa mengeluarkan
selembar folio untuk ulangan dadakan.
“Pak..... kok ulangan lagi sih? Minggu kemarin kan udah
ulangan” protes Pandu sang Ketua kelas.
“Sudah tidak usah banyak protes, ulangan kalian minggu lalu
jeblok semua. Hanya beberapa siswa yang nilainya cukup baik” jawab Pak Kusdiman
tegas.
Suasana di kelas X-2 cukup hening. Raut wajah siswa-siswinya
berubah menjadi seperti pelari maraton, bercucuran air keringat demi menjawab
berpuluh-puluh soal fisika.
Bel pengganti pelajaran selanjutnya pun berbunyi, tanda
berakhir juga pelajaran fisika.
Dengan wajahnya yg stress sehabis mengerjakan soal fisika
tadi, Denia beranjak dari kursinya untuk keluar cari angin. Sedangkan Rey hanya duduk diam di kursinya
sembari baca buku yang ia pinjam kemarin di perpustakaan sekolah.
Dari depan kelas Denia sedikit menjerit, membuat seisi kelas
menengok kearahnya.
“Rey...... Rey...... sini buruan.....” panggil Denia heboh.
Rey hanya menoleh dengan wajah datarnya tanpa beranjak dari
kursinya hanya untuk menghampiri Denia.
Denia pun berjalan ke arah kursi Rey, dan langsung menarik
tangan sahabatnya itu.
“Ada apaansih Den? Gue lagi males nih,..” ujar Rey pelan.
“Itu... tuh kak Excel, lagi main futsal sama temen-temen
sekelasnya. Ganteng bangeeeeeettttt. Makin klepek-klepek gue liatnya.” jawab Denia
“Ah... kak Excel lagi, kak Excel lagi..... bosen ah Den.”
kata Rey cuek.
“Ih... Rey mah nggak asik. Harusnya lo tuh seneng kek, apa
kek liat temen lo lagi jatuh cinta gini. Makanya lo jatuh cinta dong... betah
banget masih ngegalauin Seno” jawab Denia sedikit ketus.
Rey terdiam, mendengar nama Seno. Seperti ada rasa nyeri
menyerang bagian dadanya. Iya, Seno adalah masalalu Rey. Yang pergi
meninggalkan Rey tanpa sebuah kejelasan, dan sampai saat ini Rey masih menunggu
Seno yang ia yakini, akan kembali.
“Tau ah.... kenapa jadi ngomongin Seno.” Kata Rey kesal
sambil berjalan menuju kursinya.
Denia pun tak menghiraukan Rey lagi. Denia masih asik
memperhatikan kak Excel di lapangan futsal. Tanpa disadari Denia, Bu Rida guru
matematika sudah ada di dalam kelas.
“Denia, sedang apa kamu di depan pintu. Kembali ketempat
dudukmu” panggil Bu Rida.
Denia sontak kaget, ternyata sudah ada Bu Rida dalam kelas.
Dan Denia berlalu menuju tempat duduknya.
“Lo kenapa nggak manggil gue sih, kalo Bu Rida udah dalem
kelas..” ujar Denia jutek.
“Hahahaha... sori Den, abis gue juga lagi asik baca buku.
Jadi gue diem aja deh..” ledek Rey.
Pelajaran pun berlangsung selama 2 jam. Bu Rida masih serius
menerangkan materi, tapi bel istirahat sudah berbunyi.
“Baik... materi untuk hari ini selesai. Kamis besok kita
ulangan ya.” Ujar Bu Rida sambil meninggalkan kelas.
Seperti biasa, anak-anak bersorak-sorak protes mendengar
kata ulangan.
“Kantin yuk Rey... gue laper nih. Mumet abis belajar fisika,
matematika gini.” Kata Denia.
“Yuk... gue juga laper, tapi bentar ya gue ke perpus dulu.
Balikin buku nih...” ajak Rey.
Denia pun mengangguk setuju. Denia dan Rey pun keluar kelas
munuju perpustakaan di lantai 1 sekolahnya.
Saat di tangga, ada kak Excel dan beberapa teman kelasnya.
Denia yg melihat keberadaan kak Excel pun sedikit histeris.
“Hai Denia, Rey... mau ke kantin ya?” sapa kak Excel ramah.
“Iya kak, tapi kita mau ke perpus dulu...” jawab Denia
malu-malu.
“Oh gitu... yaudah gapapa, bareng aja. Kan sekalian abis
dari perpus terus ke kantin..” kata kak Excel.
Denia tersenyum senang dan melihat ke arah Rey. Rey pun
membalas senyuman Denia dengan wajah kecut.
Di depan perpustakaan, Rey pun masuk kedalam menemui Pak Ono
yang biasa bertugas menjaga perpustakaan.
- bersambung -
Baru mampir udah suka sama tulisannya :)
BalasHapusWeheyyy, terima kasih ya :)
Hapushmm, endingnya rada gantung nih. parta 2 dong :)
BalasHapusbtw, rey sama kayak nama temen gue deh..
Siap segera di lanjutkan :) makasih ya udah mampir.
Hapus