Rintikan hujan, terlihat dari jendela kamarku.
Lalu aku menatap keluar dan menatap langit. Selalu gelap ketika hujan hendak turun mengguyur bumi.
Ku kenakan jaket yang menggantung di balik pintu. Hangat setelah aku gunakan.
Akan lebih hangat lagi jika ku sajikan teh atau cokelat panas. Sudah aku bayangkan, tentu nikmat rasanya.
Aku putuskan membuat cokelat panas. Aku berjalan menuju ruang tamu,km ku tekan tombol saklar agar rumah menjadi lebih terang.
Aku duduk, sembari meniupkan perlahan cokelat panasku. Ku sruput sedikit demi sedikit. Masih agak panas, namun aroma cokelat menggugah seleraku. Enak sekali.
Tak ingin buru-buru ku habiskan. Biar saja tetap menjadi hangat, tapi kalau terlalu lama juga menjadi dingin.
Iya, seperti cinta. Bila di diamkan terlalu lama, akan hambar. Tak akan enak. Aku tak ingin begitu, biar saja ia bersemi penuh hangat.
Segelas cokelat panas yang ku teguk, meluruhkan dingin rasa yg sempat mati. Biar untuk kali ini ku nikmati perlaham-lahan. Tak usah terburu-buru, jangan juga membiarkannya terlalu lama.
0 komentar:
Posting Komentar